Skip to content
Home » Fat Shaming Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Korban

Fat Shaming Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Korban

  • by

Fat shaming menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan. Perilaku ini sudah menjadi sebuah kebiasaan. Pelecehan terhadap berat badan orang lain dianggap hal yang lumrah. Pelaku fat shaming berlindung dibalik alasan agar korban dapat berubah. Faktanya, ejekan atau hinaan tersebut tidak membuat seseorang berubah. Fat shaming justru berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental.

Fat shaming adalah sebuah komentar negatif yang ditujukan kepada orang-orang yang memiliki badan gemuk. Perilaku fat shaming dilakukan agar seseorang dapat berubah. Perubahan yang dimaksud yaitu, supaya korban dapat menurunkan berat badan. Diharapkan korban mempunyai berat badan yang ideal. Hal ini disebabkan karena masyarakat mempunyai pandangan yang seragam terhadap tubuh yang ideal.

orang depresi

Perilaku fat shaming termasuk dalam penghinaan fisik atau body shaming. Di Indonesia, kesadaran tentang penghinaan fisik masih kurang. Beberapa masyarakat Indonesia menganggap bahwa menghina fisik adalah hal yang wajar. Mereka berpendapat bahwa fat shaming adalah sesuatu yang positif agar dapat merubah seseorang ke arah yang lebih baik.

Mengutip dari detik.com, terdapat 966 kasus body shaming yang terjadi pada tahun 2018. Kasus fat shaming juga termasuk di dalamnya. Kasus tersebut ditangani oleh polisi di seluruh Indonesia. Tercatat, sebanyak 347 kasus selesai, baik melalui penegakan hukum ataupun mediasi antara korban dengan pelaku.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di International Journal of Obesity mengungkapkan, sekitar 76% – 88% peserta survey pernah mengalami penghinaan terhadap berat badan di lingkungan keluarga. Penghinaan ini berasal dari orang tua, saudara kandung dan anggota keluarga lainnya. Fat shaming terjadi di lingkungan keluarga yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk berlindung.

terkucilkan

Selain lingkungan keluarga, sekolah juga adalah tempat terjadinya fat shaming. Tercatatat, 72-81% peserta survey mengalami fat shaming di lingkungan sekolah. Perilaku ini membuat korban tidak percaya diri dan minder. Penghiaan juga terjadi di lingkungan kerja. Sebesar 54-62% peserta survey mengalami penghinaan terhadap berat badan di tempat kerja.

Perilaku fat shaming juga terjadi di media sosial.  Penelitian berjudul “Obesity in Social Media: A Mixed Methods Analysis” mengungkapkan, diskusi tentang obesitas di media sosial selalu melibatkan fat shaming. Diskusi tersebut sering berubah menjadi pelecehan, hinaan dan cyberbullying. Keadaan buruk ini sering terjadi kepada wanita.

Beberapa orang menganggap ejekan dan kritik untuk seseorang yang memiliki berat badan berlebih adalah sebuah hal yang positif. Mereka berpendapat bahwa diskriminasi berat badan dapat merubah korban. Padahal, asumsi tersebut sangat tidak tepat. Fat shaming justru membuat berat badan korban semakin meningkat.

Jurnal berjudul “The Ironic Effects of Weight Stigma” mengungkapkan, 93 wanita korban fat shaming yang memiliki kelebihan berat badan mengalami peningkatan nafsu makan dan lebih banyak menerima asupan kalori. Hal ini membuktikan bahwa fat shaming hanya akan memperparah keadaan seseorang.

orang gemuk makan

Stres dirasakan oleh korban. Dorongan stres ini menyebabkan nafsu makan meningkat. Fat shaming juga tidak merubah korban untuk mempunyai berat badan ideal. Penelitian berjudul “Perceived Weight Discrimination and Obesity” mengungkapkan, korban fat shaming memiliki kemungkinan 3.2 kali untuk tetap gemuk.

Perilaku diskriminasi berat badan dapat membekas pada korban. Penghinaan terhadap berat badan tidak membawa hal positif. Hal tersebut hanya akan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan beberapa resiko lainnya. Mengutip dari sehatq, berikut dampak yang ditimbulkan dar fat shaming:

orang depresi 2

  1. Meningkatkan resiko depresi.

Hinaan dan ejekan yang diterima akan berdampak pada kesehatan mental korban. Keadan ini yang memicu munculnya stres yang berujung pada depresi.

  1. Gangguan makan. 

Penelitian membuktikan bahwa, korban fat shaming akan mengalami kenaikan berat badan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya nafsu makan akibat stres.

  1. Berkurangnya harga diri.

Ejekan dan hinaan yang diterima korban dapat menurunkan kepercayaan diri. Hal ini membuat korban merasa memiliki harga diri yang rendah. Keadaan ini berdampak buruk bagi kehidupan. Korban akan mengalami penurunan produktivitas kerja, rusaknya hubungan dengan orang lain dan hilangnya kesadaran untuk merawat diri.

  1. Meningkatnya risiko bunuh diri. 

Fat shaming berpotensi dapat menyebabkan depresi. Padahal, depresi merupakan salah satu penyebab utama peningkatan risiko bunuh diri. Penelitian yang berjudul “Extreme Obesity is Associated with Suicidal Behavior and Suicide Attempts in Adults: Results of a Population-Based Representative Sample” menjelaskan, korban fat shaming yang memiliki berat badan berlebih mempunyai peluang 21 kali lebih besar untuk melakukan bunuh diri. Selain itu, korban fat shaming juga berpeluang 12 kali lebih besar untuk melakukan percobaan bunuh diri.

ibu dan anak

Fat shaming punya dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Korban tidak akan pernah merasa lebih baik dan justru menunjukkan sebaliknya. Korban akan mengalami stres dan depresi yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Fat shaming dapat terjadi dimana saja, bahkan di lingkungan keluarga.

Selain itu, diskriminasi berat badan juga banyak terjadi di sekolah dan lingkungan kerja. Beberapa orang masih belum sadar dampak buruk dari fat shaming. Maka dari itu, hindari perilaku fat shaming dan berikan dukungan terhadap korban diskriminasi berat badan. Mari sebarkan kebaikan kepada semua orang.